top of page

Gerabak Tujuh

Jan 28, 2025
1 min read

Updated: Apr 15


Malam itu, setelah kau menyerah pada buas angin yang datang menyambutmu, ingin aku biarkan keretapi itu memutar-mutar kota, lewat dalam kelam, lalu pergi mengabur mata. Kita membaur, enggan lagi memarahi bulan yang menyunting bintang, menuduh bayu mengusik dingin. Di Gerabak Tujuh, kau ada, dalam kata-kata yang sudah lelah, bubar dalam keriuhan yang setia memangku hening.


Tokyo

17/01/2025

 
 

© 2026 Izzuddin Ramli, All Rights Reserved. 無断転載を禁じます 

  • Facebook
  • Instagram
bottom of page